Awas, Ini Bahaya Melakukan Test Rapid Antigen Sendiri

0
13
Test Rapid Antigen
Awas, Ini Bahaya Melakukan Test Rapid Antigen Sendiri

picolozine.com, Kini hadir test rapid antigen yang juga cukup akurat untuk mendeteksi virus Corona. Namun jangan berani-berani melakukannya sendiri ya. Test cepat antigen ini harus dilakukan oleh tenaga kesehatan yang sudah professional dan dengan aturan tertentu seperti menggunakan Alat Pelindung Diri (APD).

Beberapa waktu ramai di media sosial memberitakan para artis yang melakukan test rapid antigen sendiri.  Video penyanyi Bunga Citra Lestari (BCL) yang melakukan tes swab antigen atau rapid test antigen kepada temannya sebelum berkumpul viral di media sosial. Hal ini dikarenakan BCL melakukan tes swab kepada temannya seorang diri, tanpa bantuan tenaga profesional. Tindakannya itu mendapat banyak kritik oleh netizen.

Tak jauh berbeda, baru-baru ini di media sosial juga ramai pembicaraan terkait kisah dari seorang dokter telinga, hidung, dan tenggorokan (THT). Dalam gambar tangkapan layarnya, dokter THT itu menceritakan dirinya kedatangan pasien yang kebingungan karena terpapar Covid-19 dari temannya. Pasien tersebut terpapar setelah melakukan saling test swab / rapid test antigen dengan ketiga temannya tanpa bantuan tenaga profesional. Ternyata salah satu dari mereka positif Covid-19.

Saat melakukan tes swab / rapid test antigen sendiri, tidak ada satu pun dari keempat orang itu yang menggunakan alat pelindung diri (APD). Melakukan tes swab / rapid test antigen sendiri tanpa bantuan tenaga profesional memang tidak dianjurkan. Menurut DR. dr Sarwastuti Hendradewi, SpTHT-KL (K).,Msi Med, tindakan itu sangat berbahaya. Ada beberapa risiko kesehatan yang bisa terjadi apabila tes swab / rapid test antigen tidak dilakukan oleh tenaga profesional. 

Berikut bahaya dan dampak negatif melakukan test rapid antigen sendiri:

1. Kesalahan Hasil Pemeriksaan

Dokter Dewi menjelaskan bahwa swab merupakan tindakan mengambil spesimen dari nasofaring yang digunakan untuk pemeriksaan. Swab nasofaring dilakukan melalui lubang hidung yang merupakan organ dengan struktur anatomi sempit. Dalam hidung juga banyak baagian lain dan pembuluh darah serta mukosa (lapisan kulit dalam) yang tipis. Menurut Dewi, orang awam yang melakukan swab sendiri tidak memahami struktur anatomi hidung dan tidak mengetahui bagian yang harus diambil.

“Jadi bagian yang diambil enggak sampai ke tempat seharusnya yang menjadi bahan pemeriksaan,” ujar Dewi kepada Kompas.com, Senin (4/1/2020).

Kesalahan dalam pengambilan bagian untuk pemeriksaan bisa memberikan hasil yang tidak tepat. Bisa jadi hasil pemeriksaan harusnya positif. Tapi karena tempat pengambilannya salah, hasilnya menjadi negatif.

2. Terluka

Selain itu, bisa jadi orang yang hendak diswab memiliki struktur hidung bengkok sehingga rongga hidung lebih sempit. Apabila yang melakukan test antigen namun tidak memahami struktur tersebut dan asal mengambil, maka bisa menyebabkan kesakitan luar biasa. Risiko lainnya adalah patahnya tangkai yang digunakan untuk melakukan swab. Hal ini dikarenakan fungsi hidung ketika terkena benda asing.

“Fungsi hidung menimbulkan refleks bersin. Kalau memasukkan tangkainya kena mukosa, bisa bersin, dan risiko putus tangkainya. Ini sering terjadi,” kata Dewi.

Apabila tangkai patah di dalam, sementara yang melakukan tes swab / rapid test antigen tidak paham cara mengambilnya, maka risikonya bisa terjadi pendarahan di hidung atau epistaksis. Risiko pendarahan juga bisa terjadi jika tangkai swab mengenai pembuluh darah. Dewi menekankan, di hidung banyak sekali pembuluh darah yang mudah pecah.

“Pendarahan yang banyak bisa menimbulkan syok karena panik. Selain itu, pendarahan yang banyak bisa menyumbat jalan napas, yang berakibat fatal,” tambahnya. Itulah dua hal yang menjadi risiko jika kalian melakukan test rapid antigen sendiri. Untuk melakukan test swab ini maka harus dilakukan oleh tenaga kesehatan professional agar terhindar dari risiko. Tenaga profesional yang sudah mengetahui teknik swab dan struktur anatomi hidung dengan baik makan akan meminimalkan risiko terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Adapun tenaga kesehatan juga wajib dilengkapi dengan APD lengkap sebagai langkah antisipasi terpapar koronavirus.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here