Dampak Campak Rubella dan Cara Penanganannya

0
25
Dampak Campak Rubella
Dampak Campak Rubella

Picolozine.com, Pemerintah saat ini tengah bertekad untuk melawan penyakit campak dan rubella.Hal ini karena hingga tahun 2020 ditargetkan Indonesia bisa bebas dari campak dan rubella. Penyankit yang dapat mengancam nyawa serta menyebabkan bayi lahir dengan keadaan cacat ini sangat membahayakan. Dampak campak rubella ini pun yang terparah adalah kematian.

Tapi sebenarnya apa yang membedakan campak dan rubella ini ?

Campak merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus dari keluarga paramyxovirus. Campak biasanya ditularkan secara langsung melalui udara atau melalui sentuhan langsung dengan cairan tubuh orang yang terinfeksi.

Virus bisa hidup di udara bebas hingga dua jam. Ketika partikel yang terinfeksi bercampur dengan udara dan menetap di permukaan, siapa saja yang berada pada jarak dekan dengan virus akan segera terinfeksi.

Salah satu yang menjadi alasan kenapa campak berbahaya karena seseorang bisa saja menularkan penyakit ini meski belum terlihat jelas gejala penyakitnya. Penyakit ini bisa dengan mudah menyebar tanpa mengetahui bahwa dirinya memiliki penyakit ini.

Campak Jerman atau Rubella merupakan infeksi menular yang disebabkan oleh virus rubella. Serupa dengan campak, rubella juga bisa ditularkan melalui udara yang telah terkontaminasi oleh partikel ketika seseorang itu batuk, besin, atau mengeluarkan cairan dari tubuhnya. Seseorang yang terinfeksi virus ini memiliki peluang untuk menularkan virus rubella sejak satu minggu sebelum dan setelah gejala muncul.

Gejala dari campak rubella meliputi:

  • Adanya ruam merah yang bermula di wajah, kemudian menyebar ke badan dan tingkai
  • Demam
  • Sakit kepala
  • Pilek serta hidung tersumbat
  • Tidak memiliki nafsu makan
  • Mata kemerahan
  • Mengalami nyeri sendi, terjadi terutama pada remaja wanita
  • Serta, munculnya benjolan di sekitar telinga dan leher, akibatnya pembekakan kelenjar getah bening

Campak pada umumnya dialami oleh anak-anak. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan jika virus ini dapat menyerang orang dewasa yang saat kecil belum pernah terkena virus satu ini.

Campak rubella memiliki dampak yang berbahaya bagi manusia. Berdasarkan keterangan dari ahli Neurologi Anak Dr dr Irawan Magunatmadja SpA(K), jika anak terkena virus campak, akan menimbukan komplikasi yang mengakibatkan penyakit pneumonia, serta ketika anak mengalami kejang dan bisa mengakibatkan meninggal dunia.

Selain itu jika seseorang yang terkena virus rubella di waktu kehamilan, virusnya bisa menyebabkan penyakin sindrom rubella kongenital. Anak yang terkena virus ini bisa mengalami cacat lahir dengan kondisi tuli, buta, kelainan otak, hinnga jantung yang bocor.

Berdasarkan data dari 12 rumah sakit yang menjadi sentinel pemantauan kasus CRS, dikatakan jika penyakit campak dan Rubella bisa menyerang siapa saja baik laki-laki atau perempuan, dewasa dan anak-anak.

Rubella bisa dicegah dengan melakukan imunasi MMR atau MR. Dilakukannya imunisasi ini guna memberikan perlindungan terhadap Rubella. Vaksin MMR memiliki fungsi untuk mencegah gondongan dan campak, sedangkan untuk vaksin MR tidak melindungi dari gondongan. Lebih dari 90 persen penerima vaksin MMR akan kebal dari serangan rubella.

Imunisasi MMR dianjurkan untuk dianjurkan untuk dilakukannya sebanyak dua kali, yaitu pada usia 15 bulan dan usia 5 tahun. Untuk orang yang belum mendapatkan imunisasi MMR, vaksin ini bisa diberikan kapan saja.

Selain itu, wanita yang sedang merencanakan kehamilan sangat dianjurkan untuk menjalani tes darah. Jika hasil tes menunjukan tidak ada kekebalan terhadap Rubella, maka vaksin ini akan diberikan, dan satu bulan setelah mendapatkan vaksin baru diperbolehkan untuk menjalani program kehamilan. Perlu di catat, vaksin tidak boleh diberikan ketika seseorang sedang hamil.

Kemudian, untuk pengobatan Rubella sendiri bisa dilakukan di rumah. Dokter akan memberikan resep obat seperti paracetamol untuk meringankan nyeri dan demam, serta pasian akan disarankan untuk memperbanyak istirahat di rumah, agar virus tidak menyebar ke orang lain.

Sedangkan, pada ibu hamil yan menderita rubella, dokter akan meresepkan obat antivirus. Meski bisa mengurangi gejala, akan tetapi antivirus ini tidak bisa mencegah kemungkinan bayi menderita sindrom Rubella Kongenital yaitu kondisi yang menyebabkan bayi lahir dengan kelainan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here