Gejala, Ciri-ciri, dan Pengobatan Penyakit Thalasemia

0
14
Penyakit Thalasemia
Gejala, Ciri-ciri, dan Pengobatan Penyakit Thalasemia

picolozine.com, Tahukah kamu dengan salah satu jenis kelainan darah yang cukup sering ditemui yaitu penyakit thalasemia. Penyakit tersebut merupakan penyakit genetik ketika protein pada sel darah merah, yakni hemoglobin, tidak berfungsi dengan baik. Penyakit ini diketahui dapat menurun dari genetika.

Bila sepasang suami istri membawa gen thalasemia maka dimungkinkan keturunan mereka mengalami thalasemia. Namun kemungkinan tersebut hanya 25 persen, lalu 50 persennya adalah ia akan menjadi pembawa gen tersebut serta 25 persen lainnya terbebas dari thalasemia.

Siapa pun dapat mengalami thalasemia, apabila ia memiliki faktor genetik. Namun, dari segi usia, penderita thalasemia didominasi oleh anak usia 0-18 tahun. Tanda atau gejalanya umumnya bervariasi, bergantung pada derajat beratnya penyakit. Hal ini juga yang membuatnya sering kali sulit dideteksi. Kendati demikian, beberapa gejala dapat menjadi pertanda adanya kelainan darah ini, yaitu Anemia (kurang darah), permasalahan tumbuh kembang, terlambat dalam masa pubertas, perut yang membesar, tingginya kadar zat besi, gangguan tulang, kulit berwarna kuning, serta urin yang berwarna gelap.

Penyakit Thalasemia sendiri dibagi menjadi tiga, yaitu thalasemia minor, thalasemia beta, dan thalasemia alfa.

Berikut ini adalah beberapa ciri-ciri penyakit thalasemia yang perlu kamu ketahui.

1. Thalasemia Minor

Thalasemia minor merupakan kelainan yang diakibatkan kekurangan protein beta. Biasanya thalasemia ini tidak mempengaruhi fungsi tubuh secara signifikan. ciri-ciri penyakit thalasemia minor biasanya berupa anemia ringan. Belum ditemukan bagaimana cara untuk mengatasi thalasemia minor ini. Namun untuk memperpanjang usia hidup, penderitanya bisa melakukan cuci darah dalam selang waktu tertentu secara rutin.

2. Thalasemia Beta

Penyakit thalasemia jenis ini muncul dalam dua jenis yaitu thalasemia mayor atau anemia cooley dan thalasemia intermedia. Ciri-ciri penyakit thalasemia mayor umumnya akan muncul sebelum penderita berumur dua tahun. Ciri lainnya adalah anemia berat, kepucatan, sering infeksi, nafsu makan yang buruk, kegagalan perkembangan, penyakit kuning yang muncul di kulit hingga mata, dan pembesaran organ.

Cara pengobatan pada thalasemia ini biasanya dengan melakukan transfusi darah secara teratur. Namun untuk thalasemia intermedia transfusi darah mungkin tidak perlu dilakukan karena jenis ini merupakan bentuk beta thalasemia yang tidak terlalu parah.

3. Thalasemia Alfa

Terakhir yaitu thalasemia Alfa, thalasemia juga memiliki dua jenis yang cukup serius yaitu hemoglobin H dan hidrops fetalis. Ciri-ciri penyakit thalasemia alfa dari jenis hemoglobin H yaitu pertumbuhan tulang yang terlalu cepat pada bagian pipi, dahi, dan rahang. Jenis hemoglobin H juga dapat menyebabkan penyakit kuning, pembesaran limpa, dan kekurangan gizi. Sedangkan untuk thalasemia alfa jenis hidrops fetalis adalah jenis thalasemia yang sangat parah. Penyakit ini bisa terjadi sebelum kelahiran dan menyebabkan kematian pada janin.

Peluang untuk sembuh dari penyakit ini memang masih kecil karena kondisi fisik penderitanya, ketersediaan darah, hingga biaya yang harus dikeluarkan untuk melakukan transfusi darah. Untuk bertahan hidup atau memperpanjang usia, penderita memang harus memerlukan perawatan rutin, dan terus menerus.

Tranfusi darah dilakukan secara rutin untuk menjaga kadar hemoglobin di dalam tubuhnya. Tidak hanya itu, pemeriksaan ferritin serum juga diperlukan untuk memantau kadar zat besi di dalam tubuh. Penderita penyakit thalasemia juga harus menghindari makanan yang diasinkan atau makanan asam dan produk fermentasi yang dapat menngkatkan penyerapan zat besi di dalam tubuh.

Ada dua cara yang dapat dilakukan untuk mengobati penyakit thalasemia yaitu dengan transplantasi sumsum tulang belakang dan teknologi sel punca. Namun kedua hal ini masih perlu penelitian lebih lanjut terhadap akibat yang akan ditimbulkan nantinya. Dua cara di atas juga tergolong membutuhkan biaya yang cukup mahal, karena harus menggunakan teknologi canggih dan dokter yang ahli. Selain itu, menemukan pendonor sumsum tulang belakang juga cukup sulit untuk dilakukan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here